Tadi malam, barisan-barisan puisimu menculikku dalam sebuah labirin perasaan
Aku tersesat disana
Dengan menuliskannya, seolah-olah hanya kamu yang paling ahli soal
merindu. Sebenarnya kita sama-sama paham soal rindu, sampai akhirnya
kita tahu bahwa rindu tak cukup kuat untuk melahirkan sebuah temu.
Bahkan, bukan ‘temu’ jurus terjitu untuk menghapus sebuah rindu. Tapi
saat adamu tak terasa sementara, rindu itu akan hilang selamanya. Aku
memang tak bisa menjanjikan yang satu itu, tapi rasakanlah, rinduku juga
sebesar itu.
Terlalu istimewa jika namaku terbungkus dalam doamu. Perlu menghabiskan berapa ramuan rindu untuk melipat jemarimu?
Kamu selalu bicara tentang ‘suatu hari’ seakan-akan tak punya
kesempatan di masa ini. Kamu selalu bicara soal kehilangan tanpa
berusaha memilikiku seutuhnya. Jika kehilangan itu tiba, berarti kamu
pernah membiarkan celah seseorang untuk mencuriku.
Kamu tidak akan tahu, Tuhan mungkin sedang menyiapkan kejutan
untukmu. Dia benar, kamu memang perlu bersabar. Mungkin tiadaku adalah
jeda penguji kekuatan hati. Mungkin tiadaku ini pembiak rindu agar
bertumbuh lebih hebat. Mungkin tiadaku adalah jalur panjang untuk
menemukan bahagiamu dan mungkin tiadaku ini adalah karpet merah
penyambut sosok barumu.
Kamu tidak akan pernah tahu.
Mungkin tiadaku ini adalah persiapan ‘kita’ yang lebih baik lagi di
suatu hari nanti. Jika nanti benar-benar ada sehari lebih lama dari
selamanya, aku ingin setuju itu mampir ke tempat kita. Kamu, masih
melatari kemana mataku pergi. Tenang, semuanya akan berjalan baik-baik
saja meski porosmu bukan lagi aku. Kamu tidak akan tahu, apa yang sedang
Tuhan siapkan di meja kerjaNya untukmu. Bersiaplah.
No comments:
Post a Comment